KADI MULAI SELIDIKI PENYELIDIKAN ANTI DUMPING BOPP ASAL THAILAND DAN VIETNAM

Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) memulai penyelidikan antidumping terhadap barang impor biaxially oriented polypropylene (BOPP) dengan nomor pos tarif 3920.20.10.00 dan 3920.20.90.00 yang diimpor atau berasal dari Thailand dan Vietnam. Penyelidikan dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2011 tentang tindakan antidumping, tindakan imbalan, dan tindakan pengmanan perdagangan.

Penyelidikan BOPP tersebut dilakukan berkenaan dengan permohonan yang diajukan oleh PT. Trias Sentosa Tbk. dan PT. Lotte Packaging”, ungkap Ketua KADI, Ernawati. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total volume impor produk BOPP pada 2012 adalah 44.093 MT, pada 2013 menjadi 44.182 MT, dan pada 2014 menjadi 35.544 MT.

Secara kumulatif volume impor negara yang dituduh dumping (Thailand dan Vietnam) pada 2012 adalah 26.487 MT, pada 2013 mengalami peningkatan menjadi 32.975 MT, dan pada 2014 menjadi 23.443 MT. Pada 2014 secara kumulatif, kedua Negara tersebut memiliki pangsa pasar 66% dari total impor BOPP.

Bagi pihak yang berkepentingan dan ingin terlibat dalam penyelidikan, diberi kesempatan untuk menyampaikan tanggapan informasi, terkait dengan penyelidikan dan/atau permintaan untuk dengar pendapat (hearing) secara tertulis kepada KADI. KADI member kesempatan menyampaikan pemberitahuan ikut berpartisipasi pada penyelidikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal pengumuman.

Di lain sisi pemerintah senantiasa mendorong berkembangnya industri hilir bidang petrokimia yang dihasilkan oleh minyak bumi.

Salah satunya adalah industri pengemasan plastik yang dihasilkan perusahaan dari dalam negeri. Indutri plastik hilir seperti industri pegemasan memiliki potensi besar yang sangat prospektif, baik di dalam dan juga di pasaran ekspor.

Industri kemasan plastik di Indonesia terus bertumbuh selama kurun waktu lima tahun terakhir, sejalan dengan berkembangnya industri pangan, bahan kimia, dan farmasi berbahan kemasan plastik. Pada tahun-tahun mendatang, industri kemasan plastik di Indonesia akan terus bertumbuh pada kisaran 7-8 %. Hal ini ditunjang oleh terus bertumbuhnya sektor pengguna plastik terutama industri makanan minuman, bahan kimia, dan farmasi. Semakin menguatnya struktur industri plastik dari hulu ke hilir, dan berkembangnya inovasi teknologi proses produksi yang semakin efisien dan ramah lingkungan.

Apalagi potensi konsumsi produk plastik di negara Indonesia masih cukup besar, karena konsumsi nasional per kapita per tahun baru mencapai 10kg. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang terus meningkat, kebutuhan akan produk plastik hilir akan meningkat juga. Produk plastik hilir khusunya kemasan, pada umunya merupakan produk.

berita7

Antara yang banyak digunakan oleh industri yang memproduksi makanan dan minuman, kosmetika, barang elektronik, farmasi, otomotif, kimia, pertanian, produk keperluan rumah tangga, dan minyak pelumas. BOPP juga digunakan sebagai bahan baku industri kemasan makanan dan minuman, farmasi, rokok, deterjen, shampoo, garmen, kosmetik, kaset/CD/VCD/DVD, alat kantor, dan pita perekat.

Saat ini industri kemasan plastik mencapai 892 perusahaan yang menghasilkan rigid packaging, flexible packaging, thermoforming, dan extrusion yang tersebar ke beberapa wilayah Indonesia. Kapasitas terpasang mencapai 2,35 juta ton per tahun dengan tingkat pemenuhan kapasitas (utilisasi) 70% sehingga produksi rata-rata mnecapai 1,65 juta ton.

Tenaga kerja yang diserap lebih dari 500 ribu orang dengan nilai mencapai puluhan triliun. Kendati struktur industri plastik nasional sudah cukup lengkap dari hulu sampai ke hilir, tetapi kapasitas produksi masih terbatas pada bahan baku. Karena itu guna memperkokoh struktur industri plastik, pemerintah terus mendorong pengembangan industri pengilingan minyak bumi.

—— (sumber : Berita Import GINSI Jatim Edisi 1412/XLVI) ——

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *