INGIN MENANG DALAM MEA, KUNCINYA ADALAH STANDARISASI
Bangsa-bangsa di dunia pada saat ini sedang giat-giatnya mengampanyekan arti penting standar dalam kehidupan. Dimana standar merupakan alat yang cukup ampuh dalam menata kehidupan yang lebih aman dan lebih pasti. Standar juga telah diyakini sebagai acuan untuk menghasilkan produk-produk yang bermutu tinggi dan berdaya saing yang dapat memenuhi atau bahkan melebihi persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk dapat menembus pasar global.
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya, di Jakarta berpendapat, standarisasi merupakan senjata untuk memenangkan persaingan di pasar global, terutama dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku di tahun ini. Dia mengatakan standarisasi merupakan wahana perubahan untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Selain itu, kata Bambang, standar juga sebagai piranti andal dalam perubahan sosial, ekonomi, budaya, serta mendukung regulasi seperti SNI tabung gas konversi minyak tanah ke gas.
Kendati demikian, menurutnya standarisasi harus dilakukan secara komperehensif, integral dan visioner. Pasalnya standarisasi tidak dapat berdri sendiri. Dia menyebutkan ada tiga pilar infrastruktur mutu nasional dalam standarisasi yakni metrology, standarisasi, dan penilaian kesesuaian. Ditegaskan untuk hal-hal tersebut Komite Akreditasi Nasional (KAN) bertugas dan bertanggung jawab di bidang akreditasi lembaga penilaian kesesuaian.
Menurut Bambang, peningkatan daya saing di era globalisasi dan regionalisasi perdagangan tidak dapat dihindari lagi. Pada dasarnya hanya bangsa yang berdaya sainglah yang akan mampu memperoleh manfaat yang besar untuk meningkatkan kesejahteraannya. Yaitu untuk bangsa yang memiliki kemampuan untuk dapat diterima sebagai pemain dalam rantai produksi dan transaksi global dan regional. Sementara sebaliknya, bangsa yang tidak mampu meningkatkan daya saingnya akan menjadi korban dan hanya menjadi penonton tanpa memperoleh keuntungan ekonomi dari segala potensi perdagangan global tersebut.
Bambang mengibaratkan MEA sebagai satu pertandingan yang sudah memasuki babak semifinal. Babak finalnya, yakni pada tahun ini, bertepatan dengan mulai berlakunya era perdagangan bebas kawasan ASEAN. Menurut Bambang, standarisasi membuat peningkatan daya saing Indonesia di MEA menjadi lebih baik dan harus lebih cepat. Terlebih standarisasi juga terkait dengan standar budaya orang, dan tentu saja kualitas. “Perubahan perilaku penumpang itu tidak memakan waktu bertahun-tahun. Hanya hitungan beberapa bulan saja,” mambang mencotohkan.
BSN, kata Bambang berusaha mendorong kesiapan daya saing Indonesia dalam menghadapi MEA 2015. Pasalnya, produk berstandar yang diakui dunia internasional sangat penting bagi persaingan dalam perdagangan bebas. Standarisasi yang jelas kata dia, harus dilakukan agar Indonesia tidak susah bersaing. Dia berharap penerapan SNI di berbagai produk di Indonesia bisa mendorong daya saing produk nasional. Sehingga, Indonesia dapat mengambil keuntungan dari diberlakukannya MEA 2015, sebab produk Indonesia dilirik karena punya standar yang baik.
Saat ini, ujar Bambang, standarisasi wajib dilakukan sebab masyarakat lebih percaya dengan produk yang memilki sertifikat. Indonesia akan menjadi sasaran pasar bagi negara-negara anggota ASEAN lainnya, makanya harus melindungi produk dalam negeri dengan SNI, BSN sudah melakukan kebijakan penting dalam penerapan SNI. Antara lain, melakukan perumusan SNI sesuai permintaan pasar termasuk memasukkan inovasi-inovasi.
—— (sumber: Berita Import GINSI Jatim) ——
