PENGUSAHA PAKAN PERTANYAKAN KEBIJAKAN JAGUNG KEMENTAN

Panen-jagung Kebijakan Menteri Pertanian yang menyetop impor jagung dengan alasan swasembada jagung sudah tercapai dan penetapan harga dasar jagung dipertanyakan oleh pengusaha pakan ternak yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). “Kebijakan ini disatu sisi memang mengangkat kesejahteraan petani jagung karena harganya tinggi, tetapi disisi lain akan merugikan peternak unggas karena harga pakan jadi mahal. Padahal meningkatkan kesejahteraan peternak juga merupakan tugas Kementan,” kata Budianto penasehat GPMT.

Mentan menyatakan saat ini ada jagung siap panen 10 ribu hektar sehingga pengusaha pakan tidak perlu impor. Padahal setelah menghubungi pedagang jagung yang biasa memasok ke pabrik mereka juga tidak tahu dimana jagung siap panen tersebut.

Budianto juga menyangkal bahwa saat ini saking banyaknya panen jagung maka truk-truk jagung ngantri di pabrik pakan. “Pabrik pakan biasa menyimpan stok sepanjang tahun. Jadi sekarang pasokan ke pabrik masih normal, tidak ada lonjakan sehinbgga truk-truk pengangkut jagung mengantri,” katanya.

Dalam berbagai acara panen raya jagung, Menteri Pertanian selalu mengklaim produktivitas jagung Indonesia mencapai 7 ton/ha. “Perlu dipertanyakan apakah angka itu panen spot itu saja yang sengaja dipilih karena akan dipanen oleh menteri, atau secara merata terjadi di setiap sentra jagung. Produkstivitas 7 ton/ha termasuk yang tertinggi di kawasan Asia,” katanya.

Saat ini pemerintah menetapkan harga dasar jagung ditingkat petani Rp 3.800/kg, padahal tingkat kadar air jagung petani mencapai 25%. Dengan kadar air sebesar itu belum bisa masuk pabrik karena masih teralu tinggi. “Bukan pakan yang dihasilkan tetapi semacam tape jagung kalau kadar air sebesar itu,” imbuhnya.

Kadar air yang bisa diolah jadi pakan adalah 15%. Pabrik pakan tidak akan mebeli jagung dengan kadar air lebih dari 15% karena tidak ada failitas pengeringan (dryer) di pabrik. Biasanya pedagang pengumpul yang menyediakan dryer sehingga kadar airnya sesuai.

“Seharusnya dalam bagi-bagi alat mesin pertanian dilakukan Kementerian Pertanian maka dryer juga termasuk. Dengan cara ini maka petani mampu menghasilkan jagung dengan kadar air 15% sehingga akan memudahkan pemasaran dan meningkatkan harga,” katanya.

Dengan kadar air 25% setelah dikeringkan dengan kadar air 15% maka harga mencapai Rp 4.450/kg, dan merupakan harga jagung termahal di dunia. Di Indoensia sendiri sepanjang sejarah baru sekarang ini harga jagung mencapai rekor tertinggi.

Sekitar 75% komponen pakan ternak adalah jagung. Otomatis dengan kenaikan harga jagung akan memicu kenaikan harga pakan ternak. “Masalahnya adalah peternak. Bagi pengusaha gampang saja harga tinggal dinaikkan. Tinggal apakah peternak mampu bertahan dengan harga seperti ini.
Dengan harga ayam dan telur seperti sekang ini jelas mereka akan rugi sehingga akan banyak petrenak yang menutup usahanya,” katanya.

Dasar penentuan harga juga dipertanyakan. Apakah pemerintah sudah menghitung dengan tepat biaya produksi jagung sehingga petani masih bisa mendapatkan harga yang layak tanpa mengorbankan peternak rakyat.

Pemerintah selalu menekan harga untuk menekan inflasi, contohnya ketika harga daging ayam naik semua pengusaha yang terkait dengan unggas dikumpulkan. Peternak disidak sampai membawa-bawa polisi segala. Tetapi kenapa kalau harga pakan naik pemerintah diam saja.

Saat ini yang bertanggung jawab terhadap peningkatan produksi jagung seolah-olah direkur pakan Ditjen Peternakan. Dia yang selalu sibuk keliling ke sentra-sentra produksi jagung dan selalu mengeluarkan pernyataan jagung cukup. Padahal tugas utama ada pada direktur serelia, ditjen tanaman pangan sampai sekarang tidak ada pernyataan.

Dalam kunjungan ke sentra-sentra produksi jagung, pemerintah menetapkan secara sepihak saja bahwa jagung cukup . GPMT yang punya kepentingan karena akan membeli jagung tersebut sama sekali tidak dilibatkan.

Secara terpisah Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menyatakan tahun 2015 produksi jagung mencapai 20.667.000 ton atau paling tinggi yang belum terjadi selama ini. Tahun 2014 produksi jagung mencapai 19.008.000 ton. Tahun 2015 produksi naik 1,66 juta ton atau 8,72%.

Penyebabnya adalah kenaikan produktivitas yang mencapai 5,17 ton/ha atau naik 2,16 kuintal/ha (4,36%). Peningkatan produksi 1,66 juta ton memberi nilai tambah ekonomi Rp 5,33 triliun dan merupakan produksi tertinggi selama lima tahun.

Neraca jagung menujukkan surplus 817.000 ton setelah dikurangi untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan ternak 8,25 juta ton, industri pangan 3,92 juta ton, rumah tangga 390 kuintal, benih dan lainnya.

—— (sumber: Berita Import GINSI Jatim) ——

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *