GINSI & INSA Apresiasi layanan Satu Pintu di Tanjung Emas

Gabungan importir nasional seluruh Indonesia (GINSI) mengapresiasi positif adanya layanan sistem Single Submission (layanan satu pintu) dan Joint Inspection Pabean – Karantina di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

“Pelayanan satu atap ini akan memberikan kemudahan pada pelaku usaha yang berkegiatan di pelabuhan khususnya pelayanan kontainer,” kata Budiatmoko, Ketua GINSI Jawa Tengah, Senin (29/6) pagi.

Tapi, ujarnya, layaann tersebut masih dalam taraf uji coba. “Kemarin hari  Jumat (26/6) baru disosialisasikan jadi untuk kendala belum ada, semoga aja nggak terjadi,” ungkapnya.

Justru BPD Ginsi Jateng, ucap Koko (panggilannya) mengapresiasi penerapan sistem ini karena sebelumnya para importir harus mengajukan dua kali perizinan ke bea cukai dan karantina.

“Dengan sistem ini akan ada percepatan waktu 2 hari sehingga menguntungkan importir,” katanya lagi.

GINSI berharap program ini dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk memangkas waktu dan biaya pengeluaran kontainer.

“Langkah-langkah tersebut bisa diterapkan dengan baik dan bisa menjadi solusi untuk mendorong perekonomian indonesia khususnya di Jateng disaat pendemi covid 19,” ungkap Koko.

Ketua INSA Semarang Ridwan menyatakan, untuk pelayaran adanya kebijakan itu tak dirasakannya langsung.

“Yang merasakan langsung pihak forwarding dan importir. Keuntungannya bagi perusahaan pelayaran adalah bisa mendapatkan equipment (contr) lebih cepat sehingga perputaranya lebih efisien dan dapat segera disiapkn untuk kargo ekspor berikutnya,” ujarnya.

Seperti diketahui bahwa pengurusan dokumen untuk pengiriman barang, baik ekspor dan impor di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, sekarang hanya membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam pengurusan dokumen Pabean dan proses kekarantinaan.

Bea Cukai, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang, Balai Karantina Pertanian Semarang dan Terminal Peti Kemas (TPKS) Tanjung Emas Semarang membuat sistem Single Submission (Sistem Pelayanan Satu Pintu) dan Joint Inspection Pabean – Karantina di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Sebelumnya, proses pabean dan karantina membutuhkan waktu 3 hari 23 jam yakni proses bongkar muat barang dari kapal, pengecekan barang hingga barang keluar dari pelabuhan.

Namun, kini dengan Single Submission dan Joint Inspection, hanya membutuhkan waktu dua hari saja

Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Emas Semarang, Anton Martin mengatakan sebelum adanya Single Submission (SSm) para pengguna jasa pengiriman barang harus melaporkan dokumen barang yang dikirim kepada Bea Cukai dan Balai Karantina.

Selain itu dalam proses pengecekannya dilakukan sendiri-sendiri yakni antara pihaknya dengan pihak karantina dilakukan terpisah sehingga membuat waktu dwelling time menjadi lama.

“Dengan adanya SSm pengguna jasa hanya mengunggah dokumen satu kali saja, dan waktu inspeksi akan dilakukan bersama-sama antara Bea Cukai dengan Karantina secara beririsan,” katanya dalam Sosialisasi SSm dan SOP Joint Inspection pada Jumat (26/6).

Anton menambahkan dengan adanya SSm dan Joint Inspection ini membuat iklim usaha dan investasi di Jawa Tengah semakin baik sehingga harga barang menjadi kian kompetitif dan pengelolaan logistik di Pelabuhan Tanjung Emas makin baik kedepannya.

Hal itu karena dalam pengelolaan logistik di Pelabuhan Tanjung Emas lebih efektif dan efisien.

Di sisi lain program SSm dan Joint Inspection di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang merupakan proyek percontohan bagi pelabuhan-pelabuhan niaga di seluruh Indonesia.

Menurutnya saat ini program SSm dan Joint Inspection ini baru dilakukan bagi 16 para pelaku usaha pengiriman barang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

“Ketika pelabuhan-pelabuhan niaga siap seperti pelabuhan Belawan, Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Tanjuk Priok maka seluruh pelaku usaha akan menggunakan sistem yang sama,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Otoritas Syahbandar Pelabuhan (KSOP), Junaidi mengatakan bahwa dengan adanya SSm dan Joint Inspection ini akan mempercepat proses dwelling time di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Tentunya akan membuat proses ekspor dan impor di Jawa Tengah berjalan semakin baik.

“Ini merupakan tidak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional,” katanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *